Piala Padjadjaran 2025: Sinergi Ilmu Dan Budaya Dalam Kebangkitan Seni Ketangkasan Domba Garut

Piala Padjadjaran 2025: Sinergi Ilmu Dan Budaya Dalam Kebangkitan Seni Ketangkasan Domba Garut

Mon, 20 Oct 2025Posted by Admin

Jatinangor, 19 Oktober 2025 — Di bawah panasnya matahari Jatinangor, suara domba yang saling beradu tanduk bergema berirama di Lapangan Merah Universitas Padjadjaran. Akhir pekan tersebut menjadi momentum bagi tradisi lama masyarakat Priangan untuk kembali memperoleh panggung melalui penyelenggaraan Piala Padjadjaran 2025: Seni Ketangkasan Domba Garut dan Bazaar Agriculture.

​​​​​Sebanyak 600 ekor Domba Garut turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, menandai kebangkitan budaya ketangkasan domba yang sempat terhenti selama lebih dari sepuluh tahun. Di balik dentuman tanduk dan sorak penonton, kegiatan ini membawa pesan mendalam tentang upaya pelestarian warisan budaya lokal melalui jalur akademik serta pengembangan ekonomi kreatif.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. drh. Agung Suganda, menyampaikan apresiasinya terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. “Acara ini tidak hanya berbicara mengenai adu ketangkasan, tetapi juga tentang bagaimana kita dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan budaya bangsa,” ujarnya. Beliau menegaskan bahwa Domba Garut bukan sekadar simbol daerah, melainkan aset genetik nasional yang harus dijaga keberlanjutannya melalui kegiatan riset dan inovasi ilmiah.

Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Arief S. Kartasasmita, menyambut baik gagasan tersebut dengan pandangan strategis yang lebih luas. Ia menggagas pembentukan Pusat Studi Domba Garut sebagai tindak lanjut dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh Fakultas Peternakan. “Universitas Padjadjaran berkomitmen untuk menjaga agar tradisi ini tetap relevan, tidak hanya bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi ketahanan pangan nasional,” tuturnya.

Ketua DPD HPDKI Jawa Barat, Denny Mulyadi, turut memberikan pandangannya. “Seni Ketangkasan Domba Garut merupakan bagian dari identitas budaya Jawa Barat. Kehadiran Unpad dalam kegiatan ini menunjukkan peran nyata akademisi dalam menjaga kebanggaan daerah agar tidak hilang oleh perkembangan zaman,” ujarnya.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga memiliki makna simbolis, yakni menyatukan kembali sivitas akademika dan masyarakat dalam satu ruang budaya. Di tengah derasnya arus industrialisasi yang berpotensi mengikis nilai-nilai tradisional, kegiatan ini menjadi wadah pertemuan antara masa lalu dan masa depan — antara tanduk dan data, antara botram dan laboratorium.
​​​​​​
“Harapan kami, kegiatan ini dapat diselenggarakan secara berkelanjutan setiap tahun. Tidak hanya sebagai perlombaan, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi dan pertukaran pengalaman antarpelaku peternakan,” ujar Prof. Rahmat Hidayat, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Pada kesempatan yang sama, Pupuhu UKM Paguyuban’30 Fakultas Peternakan Unpad menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Selama tiga bulan, kami menjalani proses yang panjang untuk mewujudkan kegiatan Piala Padjadjaran 2025: Seni Ketangkasan Domba Garut dan Bazaar Agriculture. Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh elemen masyarakat yang telah hadir dan memberikan dukungan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh panitia, khususnya anggota Paguyuban’30 — Paguyuban’30 JAWARA,” ungkapnya.

Keterlibatan mahasiswa Paguyuban’30 dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya Sunda masih hidup di lingkungan akademik. Mereka tidak sekadar menghidupkan kembali tradisi yang lama tertidur, tetapi juga berupaya menjadikannya relevan di era modern — menyatukan domba, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam satu harmoni.