Perang Iran Dan Israel Dorong Lonjakan Harga Minyak Hingga 2%

Perang Iran Dan Israel Dorong Lonjakan Harga Minyak Hingga 2%

Wed, 18 Jun 2025Posted by Admin

Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel pada hari Selasa (17/6), harga minyak dunia naik hampir 2%. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang kelangkaan pasokan minyak di seluruh dunia. Harga kontrak berjangka minyak Brent tercatat naik sebesar US$1,17, atau 1,6 persen, menjadi US$74,40 per barel, menurut Reuters.

Setelah sebelumnya sempat naik lebih dari 2% di awal sesi perdagangan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,34 atau 1,87 persen menjadi US$73,11 per barel. Harga minyak naik setelah sempat turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (16/6) karena harapan meredanya ketegangan geopolitik setelah laporan media yang menunjukkan bahwa Iran ingin mengakhiri konflik.

Namun, pada hari kelima konflik, keadaan menjadi lebih buruk ketika media Iran melaporkan ledakan dan tembakan pertahanan udara di ibu kota Teheran. Israel menyalakan sirene peringatan serangan udara di Tel Aviv sebagai tanggapan atas serangan rudal Iran.

Di antara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Iran adalah produsen minyak terbesar ketiga. Konflik dapat mengganggu pasokan minyak negara dan mendorong harga naik. Pada Senin, serangan Israel menghantam lembaga penyiaran negara Iran. Kepala badan pengawas nuklir PBB juga mengatakan bahwa fasilitas pengayaan uranium utama Iran mengalami kerusakan yang signifikan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Iran seharusnya menandatangani kesepakatan nuklir sebelum serangan Israel, dan mengatakan bahwa Teheran sekarang ingin kembali berunding. Iran dapat memanfaatkan pelepasan sanksi AS sebagai bagian dari perjanjian nuklir untuk mengekspor lebih banyak minyak, yang dapat menekan harga global.

Sementara itu, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia (OPEC+), memperkirakan ekonomi global akan tetap tangguh pada paruh kedua tahun ini. Selain itu, OPEC+ memproyeksikan penurunan pertumbuhan pasokan minyak dari negara-negara non-OPEC+ hingga 2026.