HI-Fest V 2025: Menembus Batas, Membangun Asa

HI-Fest V 2025: Menembus Batas, Membangun Asa

Wed, 30 Jul 2025Posted by Admin

Kairo, Mesir – Di tengah riuhnya musim panas ibu kota Mesir, sebuah perhelatan tahunan kembali menggeliat, menjadi denyut hidup baru di antara barisan pelajar Indonesia yang menempuh ilmu di negeri para ulama. HPIM Internal Festival (HI-Fest), sebuah ajang bertemunya para pelajar ma’had di tengah kesibukan dalam studi mereka di negeri Kinanah. Ia adalah perjumpaan semangat, ide, seni, dan cita-cita. Pada tahun kelima penyelenggaraannya, HI-Fest V 2025 datang membawa tema: CHRONOSCAPE: The Timeless Wanderer. T

Tema ini bukan sekadar hiasan kata. Ia hidup, menjelma dalam setiap langkah para pelajar yang menapaki perjalanan keilmuan di Mesir. Mereka adalah pengembara yang menyusuri lintas waktu; menjelajahi jejak masa lalu, menghadapi tantangan masa kini, menatap dan membangun visi akan masa depan. Semua itu terbingkai dalam suasana delapan hari pelaksanaan, mulai 15 hingga 22 Juli 2025.

Festival dibuka di Aula Idaroh Wafidin. Di ruangan itu, pelajar dari berbagai angkatan, latar belakang, dan daerah duduk berdampingan. Di hari itu, digelar sejumlah seminar, dimulai dari seminar kesenatan dan penjurusan kuliah yang diisi langsung oleh seluruh ketua senat fakultas di Universitas Al-Azhar Mesir, hingga seminar pengembangan karier yang berfokus pada pengembangan potensi diri untuk menunjang karier di masa depan. Festival ini bukan sekadar ajang kompetisi, tapi juga membawa nuansa edukatif bagi seluruh peserta yang hadir dan berpartisipasi.

Di hari pertama, bulu tangkis putri yang bertempat di Al Wafaa W Al Amal menjadi pembuka dari rangkaian perlombaan HI-Fest V 2025. Sedangkan perlombaan futsal meski masih berada di fase grup sudah berlangsung sengit antara tim-tim yang bertanding dan mangadu keterampilan di lapangan. Di sisi lain, debat yang digelar di Markaz Tathwir bukan pertengkaran kata, tapi dialog logika dan keberanian.

Hari berganti. Pada 16 Juli, lapangan kembali menjadi panggung utama. Futsal dan bulu tangkis kembali digelar di Al Wafaa W Al Amal. Di sela keringat dan teriakan dukungan, semangat kebersamaan tumbuh. Di Markaz Tathwir, perlombaan kaligrafi dan pidato bahasa Arab digelar. Ruangan itu sunyi, tetapi syahdu. Goresan pena dan intonasi pidato menjadi simfoni yang memadukan estetika dan makna.

Hari ketiga, 17 Juli, menjadi hari nalar dan ilmu. Futsal dan bulu tangkis berlanjut, tapi panggung utama berpindah ke arena Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) kategori sulit, debat bahasa Arab lanjutan, dan storytelling. Di MQK, peserta duduk di hadapan dewan juri, membuka kitab kuning, dan menjelaskan makna serta hukum. Menunjukkan kekuatan nalar, hafalan, dan pemahaman mendalam tentang bahasa dan isi. Dalam storytelling, suara, ekspresi, dan isi cerita membangun imajinasi pendengar. Sebuah penggabungan antara seni tutur dan pemaknaan.

Pada 18 Juli, suasana berubah. Festival beralih menjadi sebuah forum. Dua webinar digelar: satu tentang literasi finansial, satu lagi tentang kontribusi diaspora dalam industri ekspor. Bapak Imam Taufiq, Lc., M.H. CITF., seorang pakar ekonomi syariah menjadi pemateri pada sesi literasi finansial yang sesuai syariat.

Di layar Zoom dan dalam ruang diskusi, pelajar belajar tentang realita ekonomi dan pentingnya mengatur keuangan. Lalu pada sesi kedua, materi diisi oleh Wahyu Hidayatullah tentang bagaimana diaspora punya peran besar dalam rantai ekonomi global. Materi disampaikan tidak untuk menggurui, tetapi mengajak berpikir. Sesi penyampaian materi, dan tanya jawab semua berlangsung dengan penuh antusiasme dan semangat belajar dari peserta.

Lalu tibalah 19 Juli, hari untuk adu cepat dan cermat. Lomba Cerdas Cermat (LCC) digelar, bersama dengan pertandingan tenis meja putri. Tak kalah seru dari perlombaan sebelumnya, hari ini menjadi pembuktian bahwa kecerdasan dan ketangkasan bukan milik satu pihak. Tim perempuan tampil gigih, dengan konsentrasi penuh dan strategi matang.

Esok harinya, 20 Juli, arena dibuka lebih luas. Ada tenis meja putra, catur, debat bahasa Arab, dan MQK kategori mudah. Ada pula satu sesi bagi perempuan, yaitu fun games yang merupakan serangkaian permainan ringan yang mengundang tawa, menghapus lelah, dan menumbuhkan kembali rasa kebersamaan yang sempat terkikis oleh kompetisi. Di titik ini, semua menjadi satu; peserta, panitia, penonton. Tak ada pemenang dan yang kalah. Hanya ada tawa yang tulus dan momen yang tak tergantikan.

Enam hari telah berlalu. Masing-masing hari menjadi bab dalam sebuah kisah besar. HI-Fest V 2025 bukan hanya kumpulan acara. Ia adalah cerita yang ditulis Bersama oleh panitia yang merancang dengan sungguh-sungguh, oleh peserta yang datang bukan hanya untuk menang, dan oleh penonton yang setia hadir di tiap sudut ruangan.

Festival mencapai klimaksnya pada 22 Juli 2025, dalam Grand Closing yang dihadiri oleh Bapak Rahmat Aming Lasim selaku Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI Kairo, Razi Alif Al-Faiz selaku Presiden PPMI Mesir dan juga lebih dari 500 orang yang turut memeriahkan jalannya acara. Bertempat di Nasr City Sporting Club (NCSC), acara penutupan diisi dengan pertandingan semifinal dan final perlombaan futsal, final Lomba Cerdas Cermat (LCC), penampilan seni, penghargaan bagi para juara, dan momen apresiasi bagi seluruh pihak yang telah berperan. Tapi lebih dari itu, Grand Closing menjadi titik temu antara upaya dan hasil, antara proses dan pencapaian.

HI-Fest V 2025 bukan hanya sekadar festival bagi pelajar ma’had, tetapi ia adalah pesan dan pembuktian, bahwa pelajar ma’had bergelimang talenta dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sudah saatnya pelajar ma’had diberikan kepercayaan, dukungan, dan arahan untuk turut berkontribusi dalam pengembangan sumber daya anggotanya serta berdinamika dalam visi bersama untuk memajukan seluruh elemen masyarakat yang ada di Mesir